Peserta PPL (Proses Pengalaman Lapangan) dari universitas Hasyim Asyari (UNHASY) sedang melakukan tanya jawab dengan Ust. Rahmat Hidayat sebagai orator
Tampak: Seorang Mahasiswi Universitas Hasyim Asyari (UNHASY) sedang mengajukan pertanyaan dalam sesi tanya jawab
Ust. Tamim Yahya sebagai salah satu Guru Al Quran di SMP AL FURQAN MQ
Ust. Rahmat Hidayat sebagai salah satu Guru pelajaran Matematika di SMP AL FURQAN MQ
Mr. Abdul Ghoffur sebagai salah satu Guru pelajaran B. Inggris di SMP AL FURQAN MQ
Ust. Faujan Habibi sebagai salah satu Guru Al Quran dan B. Inggris di SMP AL FURQAN MQ
Bu. Nurul Laili salah satu Guru pelajaran IPA di SMP AL FURQAN MQ
Ust. Fuad Taufik sebagai Kepala Sekolah SMP AL FURQAN MQ
Tampak: Ust. Moh. Hatta sedang menguji hafalan AL Quran para siswa kelas 9 SMP AL FURQAN
Lancarno apalanmu nak, kalian semua anak pilihan dari allah untuk menjadi ahlullah
Bangkalan yang terletak pada ujung barat pulau madura merupakan salah satu kota besar di pulau madura, dan di kota terebut lah lahir seorang pemimpin bangsa dan kyai kharismatik yaitu Al-‘Alim al-‘Allamah asy-Syekh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi’idari pasangan K.H Abdul Lathif dan Nyai Maryam pada selasa 11 Jumadil Akhir 1225 H bertepatan dengan tahun 1820. Dengan kelahiran si jabang bayi membuat sang ayah KH Abdul Lathif sangat bahagia dan berharap bisa meneruskan jejak nenek moyang nyayaitu Kanjeng Sunan Kalijaga
Sejak keil kyai kholil memang sudah didik ilmu oleh kedua orang tua nya dan memasukan kholil muda ke Pondok Pesantren Bunga Gresik yang di asuh oleh KH. Sholeh, dengan bermodal ilmu dasar (nahwu sharaf) beliau dapat menguasai beberapa ilmu penting dalam ajaran agama islam seperti ilmu fiqih, ilmu tasawwuf dan Kholil muda mampu menghafal nadhom alfiyyah yang berjumlah 1000 bait dan pada tahun 1859 Kholil muda pun dikirim menuju ke Makkah. Selama di Makkah Kholil bergabung dengan teman teman dari indonesia untuk bersama sam menuntut, suatu riwayat mengatakan bahwa Kholil muda saat menuntut ilmu di Makkah lebih sering bersikap zuhud (sederhana) denagn selalu memakan kulit semangka dan meminum air zam zam itu ia lakukan selama 4 tahun dan juga jika beliau ingin buang hajat maka beliau akan keluar dari tanah haram menuju tanah halal begitulah sikap rasa hormat beliau kepada tanah haram dan tak ingin mengotorinya
Ketika di Makkah beliau mengarungi samudra ilmu yang sangat luas, di samping mempelajari ilmu dhohir seperti fiqih tafsir dan tasawwuf, beliau juga mempelajari ilmu bathin ke berbagai guru spritual dan baliau juga mempelajari thariqah Qadariyah Wan Naqsyabandiyah ke Syaikh Ahmad Khatib dan mendapatkan ijazah untuk mengajar di tanah kelahiran nya.
Setelah pulang ke tanah kelahiran nya Kyai Kholil di nikah kan oleh Nyai Asyik (putri kedua dari lodra putih, dari pernikahan tersebut beliau di karuniai seorang putra bernama Muhammad Imron dan seorang putri bernama Rohmah dan kemudian Kyai Kholil menikahi Nyai Ismi dan di karuniai anak perempuan bernama Nyai Asma
KAROMAH KH KHOLIL
Pada suatu hari, saat melakukan sholat berjamaah yang dipimpin oleh seorang Kyai Pondok Pesantren tempat Mbah Kholil muda menimba ilmu, ia tertawa cukup keras. Setelah selesai sholat kyai tersebut menegur Mbah Kholil atas tindakan yang ia lakukan memang dilarang dalam Islam.
Syekh Kholil pun menjawab hal yang menyebabkan ia bisa tertawa keras. Ketika shalat berjamaah berlangsung ia melihat berkat (makanan yang dibawa pulang sehabis kenduri) di atas kepala sang kyai. Mendengar jawaban tersebut sang kiai pun sadar dan malu atas shalat yang dipimpinnya.
Pada suatu hari, para ulama Mekah berkumpul di Masjidil Haram untuk berdiskusi membahas masalah dan hukum Islam yang sedang terjadi di Makah. Semua persoalan didiskusikan tanpa hambatan dan selalu mendapatkan solusi dan kesepakatan semua Ulama tersebut. Akan tetapi pada masalah mengenai halal atau haramnya kepiting dan rajungan terjadi banyak pendapat dan tidak menemukan solusi. Kyai Kholil pada waktu itu berada diantara peserta diskusi sambil mendengarkan dengan tekun sambil sekali-sekali tersenyum melihat silang pendapat para peserta diskusi. Melihat jalan buntu permasalahan yang ada dihadapnya, Kyai Kholil minta izin untuk menawarkan solusi untuk masalah tersebut. Akhirnya Kyai Kholil dipersilahkan untuk naik ke atas mimbar oleh pimpinan diskusi. Setelah tiba diatas mimbar, Kyai Kholil berkata, “ Saudara sekalian, ketidaksepakatan kita dalam menentukan hukum kepiting dan rajungan ini menurut saya disebabkan karena saudara sekalian belum melihat secara pasti wujud kepiting dan rajungan” ujar kyai Kholil. Semua ulama yg hadir dalam diskusi tersebut menyetujui keterangan kyai Kholil tersebut. “ saudara sekalian, adapun wujud kepiting seperti ini” ucap kyai Kholil sambil memegang kepiting yang masih basah. “sedangkan yang rajungan seperti ini” lanjut Kyai Kholil sambil memegang rajungan yang masih basah, seakan baru mengambil dari laut. Semua hadirin merasa terpana dan suasana menjadi gaduh karna keanehan tersebut. Mereka hanya bisa merasa heran dan bingung dari mana sang Kyai Kholil mendapatkankepiting dan rajungan dengan sekejap saja. Maka setelah kejadian tersebut, masalah halal atau haramnya kepiting dan rajungan telah menemukan solusinya. Sejak kejadian itu, Kyai Kholil menjadi ulama yg disegani di antara ulama Masjidil Haram.
Pada suatu hari, Kyai Kholil sedang melihat masjid yang sedang dibangun oleh menantu beliau yaitu Kyai Muntaha. Ketika melihat arah kiblat pada masjid tersebut, Kyai Kholil menegur sang menantu yang alim itu untuk membetulkan arah kiblat masjid yang sedang dibangunnya itu. Sebagai orang yg alim, Kyai Muntaha mempunyai alasan dalam menentukan arah kiblat tersebut, beberapa argumen ditunjukan kepada Kyai Kholil dalam penentuan arah kiblat tersebut.
Melihat menantunya tidak ada tanda-tanda untuk mendengar nasihatnya, Kyai Kholil tersenyum sambil berjalan kearah tempat pengimaman di ikuti sang menantu. Kyai Kholil mengambil sebuah kayu untuk melubangi dinding tembok arah kiblat dan menyuruh Kyai Muntaha untuk melihat lubang pada dinding masjid di tempat pengimaman. Betapa kagetnya Kyai Muntaha setelah melihat lubang itu, sang menantu melihat dalam lubang kecil itu terlihat Ka’bah yang berada di Makkah dengan sangat jelas. Dengan penglihatan itu, Kyai Muntaha heran dan sadar bahwa arah kiblat yang menjadi kiblat bangunan masjidnya salah. Arah kiblat bangunan masjid terlalu miring dan terbukti benar apa yang di koreksi Kyai Kholil.
Kejadian ini pada musim haji. Kapal laut pada waktu itu, satu-satunya angkutan menuju Mekkah. Semua penumpang calon haji naik ke kapal dan bersiap-siap, tiba-tiba seorang wanita berbicara kepada suaminya: “Pak, tolong saya belikan anggur, saya ingin sekali,” Ucap istrinya dengan memelas.
“Baik, kalau begitu. Mumpung kapal belum berangkat, saya akan turun mencari anggur,” Jawab suaminya sambil bergegas ke luar kapal.
Suaminya mencari anggur di sekitar ajungan kapal, nampaknya tidak ditemui penjual buah anggur seorangpun. Akhirnya dicobanya masuk ke pasar untuk memenuhi keinginan istrinya tercinta. Dan meski agak lama, toh akhirnya anggur itu didapat juga. Betapa gembiranya sang suami mendapatkan buah anggur itu. Dengan agak bergegas, dia segera kembali ke kapal untuk menemui isterinya. Namun betapa terkejutnya setelah sampai ke ajungan, kapal yang akan ditumpangi semakin lama semakin menjauh. Sedih sekali melihat kenyataan ini. Ia duduk termenung tidak tahu apa yang mesti diperbuat.
Di saat duduk memikirkan nasibnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampirinya. Dia memberikan nasihat: “Datanglah kamu kepada Mbah Kholil Bangkalan, utarakan apa musibah yang menimpa dirimu!” Ucapnya dengan tenang.
“Mbah Kholil?” Pikirnya. “Siapa dia, kenapa harus ke sana, bisakah dia menolong ketinggalan saya dari kapal?” Begitu pertanyaan itu berputar-putar di benaknya.
“Segeralah ke Mbah Kholil minta tolong padanya agar membantu kesulitan yang kamu alami, insya Allah,” Lanjut orang itu menutup pembicaraan.
Tanpa pikir panjang lagi, berangkatlah sang suami yang malang itu ke Bangkalan. Setibanya di kediaman Mbah Kholil, langsung disambut dan ditanya: “Ada keperluan apa?”
Lalu suami yang malang itu menceritakan apa yang dialaminya mulai awal hingga datang ke Mbah Kholil. Tiba-tiba Kyai itu berkata: “Lho, ini bukan urusan saya, ini urusan pegawai pelabuhan. Sana pergi!”
Lalu suami itu kembali dengan tangan hampa. Sesampainya di pelabuhan sang suami bertemu lagi dengan orang laki-laki tadi yang menyuruh ke Mbah Kholil, lalu bertanya: ”Bagaimana, sudah bertemu Mbah Kholil?”
“Sudah, tapi saya disuruh ke petugas pelabuhan,” Katanya dengan nada putus asa.
“Kembali lagi, temui Mbah Kholil!” Ucap orang yang menasehati dengan tegas tanpa ragu.
Maka sang suami yang malang itupun kembali lagi ke Mbah Kholil. Begitu dilakukannya sampai berulang kali. Baru setelah ketiga kalinya, Mbah Kholil berucap: “Baik kalau begitu, karena sampeyan ingin sekali, saya bantu sampeyan.”
“Terima kasih Kyai,” Kata sang suami melihat secercah harapan.
“Tapi ada syaratnya,” Ucap Mbah Kholil.
“Saya akan penuhi semua syaratnya,” Jawab orang itu dengan sungguh-sungguh.
Lalu Mbah Kholil berpesan: “Setelah ini, kejadian apapun yang dialami sampeyan jangan sampai diceritakan kepada orang lain, kecuali saya sudah meninggal. Apakah sampeyan sanggup?” Seraya menatap tajam.
“Sanggup Kyai,“ Jawabnya spontan.
“Kalau begitu ambil dan pegang anggurmu pejamkan matamu rapat-rapat,” Kata Mbah Kholil.
Lalu sang suami melaksanakan perintah Mbah Kholil dengan patuh. Setelah beberapa menit berlalu dibuka matanya pelan-pelan. Betapa terkejutnya dirinya sudah berada di atas kapal tadi yang sedang berjalan. Takjub heran bercampur jadi satu, seakan tak mempercayai apa yang dilihatnya. Digosok-gosok matanya, dicubit lengannya. Benar kenyataan, bukannya mimpi, dirinya sedang berada di atas kapal. Segera ia temui istrinya di salah satu ruang kapal.
“Ini anggurnya, dik. Saya beli anggur jauh sekali,” Dengan senyum penuh arti seakan tidak pernah terjadi apa-apa dan seolah-olah datang dari arah bawah kapal.
Padahal sebenarnya dia baru saja mengalami peristiwa yang dahsyat sekali yang baru kali ini dialami selama hidupnya. Terbayang wajah Mbah Kholil. Dia baru menyadarinya bahwa beberapa saat yang lalu, sebenarnya dia baru saja berhadapan dengan seseorang yang memiliki karomah yang sangat luar biasa.
WAFAT
Pada 29 Ramadhan 1343 sekitar tahun 1925 Tanah air dan Madura di selimuti mendung duka karena berpulang nya ke rahmatullah Al-‘Alim al-‘Allamah asy-Syekh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi’i yang membuat seluruh penjuru nusantara berbondong bondong datang ke Tanah Madura untuk menghantarjkan jenazah Kyai Kholil menuju tempat peristirahatan terakhir ribuan linangan air mata jatuh berhamburan di mana mana melihat kepergian sang pemimpin
Makam Al-‘Alim al-‘Allamah asy-Syekh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi’i
Lahir pada 10 rajab 1344/24 januari 1926 di Jember
Wafat pada 23 januari 1991.Dimakamkan di Mojo, Kediri
Menempati kamar khusus di Pesantren Tebuireng yang di dalamnya berkumpul putra-putri kiai yang dikader langsung oleh Hadratussyaikh.
Menjadi tangan kanan Kiai Wahid Hasyim saat di Tebuireng; menjadi sekretaris pribadi ketika Kiai Wahid Hasyim menjabat ketua Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI)
Sejak muda aktif di organisasi NU dan pernah menjabat Wakil Sekretaris Umum PBNU pada periode 1956-1959 yang ketika itu dipimpin oleh KH. Idham Chalid
Dipercaya menjadi Rais Aam PBNU pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo 1984 dan berduet bersama Gus Dur yang menjabat Ketum tanfidziah
Ungkapan yang mashur mengenai penerimaan NU terhadap Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi,”Ibarat makanan, Pancasila yang sudah kita kunyah selam 36 tahun, kok sekarang dipersoalkan halal dan haramnya.”
Pencetus konsep Ukhwah (persaudaraan); Ukhwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam). Ukhwah Wathaniyah (persaudaraan bangsa). Dan Ukhwah Basyariyah (persaudaraan umat manusia).